Bagaimanakah bulan Juli di Jepang?
Pada bulan Juli, musim hujan mulai selesai, bermula dari daerah selatan menuju ke utara Jepang. Matahari setelah selesainya musim hujan bersinar menyilaukan, dan datanglah musim panas. Dari balik gunung atau laut muncullah gumpalan-gumpalan awan raksasa.
Tanggal 7 Juli adalah hari perayaan Tanabata. Perayaan
ini berasal dari Cina, namun sekarang telah diserap oleh jepang.
Sejak jaman Edo, mulai ada kebiasaan di kalangan
masyarakat Jepang untuk menuliskan harapan dan keinginannya di kertas berwarna-warni yang berbentuk persegi panjang, lalu menghiasinya pada daun bambu sambil memohon semoga keinginannya tercapai. Langit malam yang indah bulan Juli, bintang kecil bertaburan, dan galaksi Bimasakti pun tampak seperti sungai yang mengaliri langit. Dua bintang mengapit Bimasakti, tampak lebih terang dibanding bintang-bintanglainnya.
Kedua bintang itu bernama Altair dan Vega. Hanya sekali dalam setahun,
yakni pada tanggal 7 Juli, mereka bertemu.
Cerita berikutnya adalah cerita tentang kedua bintang itu.
PUTRI TANABATA
PADA jaman dahulu kala, di suatu desa hiduplah seorang pemuda. Ia hidup dengan
mengumpulkan kayu bakar di gunung atau membajak ladang. Pada suatu hari, pemuda
itu menemukan benda yang aneh di tengah perjalanan pulang dari ladang. “Apa ini?
Oh, ini pakaian! Alangkah indahnya pakaian ini!” Ia belum pernah melihat pakaian
seindah itu. Muncul keinginan untuk memiliki pakaian itu. Ia memasukkan pakaian
itu ke dalam keranjang dengan hati-hati dan bersiap pulang ke rumah. Pada saat
itu… “Permisi…” “Eh, siapa yang memanggilku?” Muncullah seorang wanita yang
cantik dari semak-semak dekat kolam. “Ya, sayalah memanggil Anda, Tuan.”
“Ada apa?” “Tolong kembalikan pakaian bidadari saya.” “Pa-pakaian bidadari?”
“Betul, kalau tidak ada pakaian bidadari itu, saya tidak bisa pulang ke langit.”
Wanita itu berkata dengan raut muka hampir menangis.
“Saya adalah wanita yang tinggal di langit. saya bukan wanita dari dunia ini.
Saya masuk kedalam kolam ini dan mandi,tapi lupa waktu. Tolonglah,tolong
kembalikan pakaian bidadari saya.”
“Pa-pakaian bidadari apa? A-aku tidak tahu apa itu.”
Si pemuda tidak mengatakan bahwa ia menyembunyikan pakaian bidadari, dan akhirnya
ia terus berpura-pura. Bidadari yang menjadi tidak bisa pulang kelangit itu
terpaksa tinggal di bumi dengan hati berat. Lalu ia pergi kerumah pemuda dan
mulai hidup bersama dengan pemuda.
Bidadari itu bernama Tanabata. Si pemuda dan Tanabata menjadi suami-istri dan
mulai hidup dengan harmonis.
Beberapa tahun telah berlalu.
Pada suatu hari setelah si pemuda pergi bekerja diladang, Tanabata melihat seekor
merpati mematuki retakan balok langit-langit. Merpati itu menarik keluar suatu
benda–ASTAGA!!! Itu adalah pakaian bidadarinya.
“I-itu adalah…., ternyata ia menyembunyikannya!”
Jika memakai pakaian bidadari, ia segera kembali menjadi bidadari. Sementara di dalam hatinya, Tanabata merasa telah kembali menjadi penghuni kahyangan.
Hari menjadi sore. Pemuda yang pulang dari ladang terkejut menemukan Tanabata yang berdiri di depan rumah.
“Tanabata!. Oh, pakaian bidadari!”
Ketika melihat pakaian bidadari itu, si pemuda segera mengerti apa yang terjadi. Lalu Tanabata berkata sambil melayang kelangit
“Sayangku, kalau kamu merasa mencintaiku, anyamlah
seribu pasang sandal jerami dan kuburkan di sekitar pohon bambu.
Dengan demikian, kita pasti akan bisa bertemu lagi. Tolong…,
lakukanlah…. Aku akan menunggu.”
Tanabata melayang semakin tinggi, lalu kembali ke langit.
Pemuda itu merasa sedih sekali. Lalu mulai keesokan harinya, ia segera membuat sandal jerami. Ia terus-menerus menganyamnya sepanjang hari. Setiap kali menghitung sandal jerami yang dianyam, ia berkata ‘belum cukup’, dan terus
menganyam lagi, lalu menghitungnya lagi. Demikian berulang-ulang.
Pada suatu hari, akhirnya ia selesai mengubur seribu pasang sandal jerami di sekitar bambu.
“Huff, apakah cukup dengan ini?”
Begitu ia selesai mengubur sandal jerami, ternyata bambu
itu langsung membesar dengan cepat dan tumbuh tinggi ke langit
dengan kokoh.
“Oh, aku mengerti! Kalau aku terus memanjat ini, pasti bisa
bertemu dengan Tanabata….”
Si Pemuda dengan cepat mulai memanjat bambu yang menjulang tinggi itu. Padahal saat jaraknya tinggal sedikit lagi untuk mencapai langit, ia tak kunjung bisa menjangkaunya.Ternyata saat menganyam sandal jerami dengan perasaan ingin segera bertemu Tanabata, sandal jerami yang mesti dikubur sebanyak 1000 pasang hanya berjumlah 999 pasang saja. Jadi,tinggal selangkah lagi ia baru bisa menjangkaunya.
“Tanabata! Tanabata!”
Suara pemuda sampai ke telinga Tanabata yang sedang
memintal dengan alat tenun di atas langit.
“Wah, jangan-jangan, ini suara….”
Ia mencoba mengintip dari atas awan, dan betul, ternyata suara itu suara suaminya yang tercinta.
“Sayangku, sayangku!”
“Tanabata, Tanabata!”
Tanabata menjulurkan tangannya lalu mengangkatkan si pemuda ke atas awan.
“Tanabata, aku rindu padamu….”
Dua orang itu meraih tangan satu sama lain dan merasa bahagia.
Pada saat itu, muncullah muka seorang laki-laki di sela-sela awan. Ia adalah ayah Tanabata.
“Siapa laki-laki itu?” tanya ayah Tanabata.
“Ini suami saya,” jawab Tanabata.
“Senang berjumpa dengan Anda,” ujar si Pemuda.
Ayah Tanabata tidak suka putrinya menikah dengan laki-laki
dari dunia bawah. Karena itu, ayah Tanabata berpikir untuk
menyuruh Pemuda melakukan kerja yang sulit untuk menyusahkan si Pemuda.
“Hmm! Jadi kamu melakukan kerja apa di dunia bawah?”
“Saya bekerja di ladang atau gunung.”
“Kalau begitu baiklah. Aku minta kamu mengerjakan ini.”
Ayah Tanabata menyuruh si Pemuda menaburkan biji-biji di ladang dalam tiga hari. Pemuda itu berusaha, lalu selesai menaburkan biji-biji dalam tiga hari seperti diminta. Tapi ayah Tanabata berkata lagi,
“Aku bilang menaburkan biji-biji di sawah sebelah sana.”
“Lho, kok….”
Pemuda itu kecewa sekali. Tanabata yang melihat keadaan ini merasa ingin membantu
suaminya. Lalu ia meminta bantuan seekor merpati.
“Tolong panggil kawan-kawanmu dan taburkan biji-biji yang ada di ladang ke sawah.”
Merpati itu mengumpulkan kawan-kawannya dan mematuki biji-biji di ladang. Lalu terbang ke atas sawah dan menaburkan biji-biji itu dari atas. Pekerjaan ini selesai dalam sekejap mata. Kali ini Ayah Tanabata yang merasa kesal menyuruh kerja yang lebih sulit lagi.Ia meminta si Pemuda supaya menjaga ladang labu selama
tiga hari tiga malam. Kalau menjaga ladang labu biasanya akan merasa sangat haus. Tetapi kalau labu itu dimakan, akan terjadi masalah yang gawat.
“Pokoknya jangan makan labu!” pesan Tanabata.
Namun, walaupun si Pemuda telah diberitahu oleh Tanabata,
ia tidak bisa menahan rasa hausnya. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan memakan buah labu itu. Dalam sekejap mata, air tumpah dari labu itu. Air yang tumpah itu menjadi sungai dan mulai mengalir dan mengeluarkan suara yang bergemuruh.
“Sayangku!”“Tanabata!”
Tanabata dan si Pemuda terpisah secara tiba-tiba.
Dengan demikian, sosok dua orang yang berhadap-berhadapan mengapit sungai itu menjadi bintang Altair dan Vega.
Kedua orang ini mendapat izin ayah Tanabata untuk bertemu hanya sekali dalam se
tahun, yaitu
pada malam hari tanggal 7 Juli.
Kedua bintang itu sampai sekarang pun masih berkilau-kilauan indah, mengapit Bimasakti.






































3 Comments on “Bagaimanakah bulan Juli di Jepang?”
Oh, begitu yah cerita lengkapnya. Ternyata mereka berdua jadi bintang Altair dan Vega. Hmmm, baru tau :).
Yaaaa begitu lah
Woooow……so sweet,eh kalo bunga di bulan juli di jepang itu apa siy?