Bagaimanakah bulan Juni di Jepang?

This item was filled under [ Social ]


Bulan Juni di Jepang adalah bulan yang penuh dengan turunnya hujan. Ketika musim berubah dari musim semi ke musim panas, hujan turun terus-menerus. Musim ini disebut tsuyu atau musim hujan. Tsuyu mirip dengan musim hujan di Indonesia, tetapi tsuyu hanya berlangsung selama kira-kira satu bulan.

Bagi para petani Jepang, tsuyu adalah hujan penuh berkah. Air yang dibawa oleh hujan memberi nutrisi kepada padi di sawah, dan berkat air itu, orang-orang bisa bercocok tanam padi di sawah yang sama secara terus-menerus. Hujan di bulan Juni sangat penting bagi pertanian Jepang.

Cerita berikutnya adalah cerita tentang Kappa dan seorang petani yang mengalami kesusahan karena hujan tidak turun. Kappa adalah hantu air yang sejak dahulu dipercaya hidup di sungai. Tubuhnya kira-kira sebesar anak manusia yang berumur 3 atau 4 tahun. Makanan kegemarannya adalah timun. Walaupun menakutkan, sebenarnya ia cukup lucu.

PENGANTIN KAPPA

PADA jaman dahulu hiduplah seorang ayah bersama tiga anak perempuannya. Pada suatu tahun, sawah-sawah mengering seluruhnya karena kemarau terus berkepanjangan. “Wah, kalau keadaan ini terus berlanjut, padi-padi akan mati. Siapa yang bisa mengalirkan air ke sawah ini, akan kuserahi salah satu anak perempuanku.” Sang Ayah berkata-kata sendiri sambil berdiri di pematang sawah. Lantas, terdengar bunyi kecipak air dari arah sungai dan muncullah Kappa. “Aku akan mengairi sawah-sawah ini. Tapi, apakah kamu benar-benar akan memberikan anak perempuanmu?” “Ya, kalau bisa mengairi, tolong lakukanlah. Aku akan menyerahkan seorang putriku.” “Baik, jangan lupa janjimu.” Kappa tertawa terkekeh-kekeh. Lalu ia kembali ke dalam sungai. Keesokan paginya, si Ayah pergi ke sawah. Ia terkejut, sawah-sawah telah penuh dengan air. Ayah segera pulang ke rumah. Tetapi saat mengingat janjinya dengan Kappa, ia merasa tidak sampai hati bertemu dengan anak-anak gadisnya. Lalu, ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan tidur.

Ia tidak bangun meskipun waktu makan telah tiba. Anak gadisnya yang tertua datang membangunkannya.
“Ayah, ayo bangun lalu makan.”
“Aku tidak mau makan.”
“Kenapa sedang tidak enak tidak makan? Apakah Ayah Sakit?”
Karena anak gadis tertuanya itu bertanya terus-menerus
Ayah lantas berkata, “Aku berjanji akan menyerahkan salah satu
anak perempuanku pada Kappa yang telah mengairi sawah. Ayo ke kamu jadi pengantin Kappa!”
Mendengar hal ini, si anak gadis tertua berkata, “Tidak!
Memangnya siapa yang mau menikah dengan Kappa?”
Ia menyepak bantal lalu pergi tergopoh-gopoh.
“Wah, susah kalau begini….” Ayah menyelimuti tubuhnya dan tidur lagi.
Lalu putrinya yang kedua datang untuk membangunkannya.
ayo bangun lalu makan Ayah. “Aku tidak mau makan.”
“Kenapa tidak makan? Apakah Ayah sedang tidak enak badan?”
Karena anak gadis keduanya itu bertanya terus-menerus,
Lalu Ayah berkata, “Aku berjanji akan menyerahkan salah satu anak perempuanku kepada Kappa yang telah mengairi sawah. Ayo kamu jadi pengantin Kappa!”
Mendengar hal ini, si putri kedua berkata, “Tidak!
Memangnya siapa yang mau menikah dengan Kappa?”
Ia menarik selimut Ayah dan pergi tergopoh-gopoh.
“Wah, susah kalau begini….” Ayah menyelimuti tubuhnya dan tidur lagi.
Lalu putrinya yang ketiga datang untuk membangunkannya.
“Ayah, ayo bangun lalu makan.”
“Aku tidak mau makan.”
“Kenapa tidak makan? Apakah Ayah sedang tidak enak badan?”
Karena putri ketiganya itu bertanya terus-menerus, Ayah berkata, “Aku menjanji akan menyerahkan salah satu anak perempuanku kepada Kappa yang telah mengairi sawah. Ayo kamu jadi pengantin Kappa!”

Mendengar hal ini, si anak perempuan yang ketiga berkata,
“Janji harus ditepati. Aku mau menikah dengan Kappa, jadi ayo makan, Yah!”
Akhirnya ayah bangun dan makan. Lantas ayah bertanya kepada putrinya yang ketiga ini.
“Aku mau mempersiapkan pernikahan, barang apa yang bagus?”
“Saya ingin membawa seratus wadah dari buah labu, Ayah.”
“Baik, seratus wadah dari buah labu ya.”
Ayah berjalan mengelilingi desa dan mengumpulkan seratus wadah dari buah labu, lalu membungkusnya. Datanglah Kappa yang berupa pemuda dengan kain untuk membawa
anak gadisnya.

Dua kakak perempuannya keluar dan berujar, “Aih,
meskipun ia adalah Kappa, ternyata wajahnya tampan.”
Si putri bungsu yang menjadi pengantin ditarik tangannya
oleh pemuda yang memikul bungkusan di bahunya.
Setibanya di rawa besar yang ada di balik gunung, si
pemuda berkata dengan gembira dan penuh semangat.

“Nah, kita telah tiba di rumah. Ayo masuk ke dalam rawa
bersama denganku.”
Lantas, si gadis melemparkan bungkusan itu ke dalam rawa
dan berteriak.“Bawakan dulu barang-barang pernikahannya.”

Kappa memberi isyarat ‘itu sih, mudah saja!’ lalu melompat
mulai menenggelamkan wadah dari buah labu ke dalam rawa dan itu. Tetapi, kalau wadah yang di sana ditenggelamkan, yang di sini langsung naik lagi ke permukaan.
yang di sebelah sana langsung mengapung ke permukaan.

Pemuda itu berjuang hebat. Eh, tahu-tahu ia telah kembali
ke Kappa, sosok aslinya, sambil terus berusaha menenggelamkan
wadah dari buah labu itu.

Tetapi wadah itu terus naik ke permukaan. Kappa belum
juga berhasil menenggelamkannya. Kappa merasa sangat kelelahan, lalu menghela nafas dan berkata.

“Wah, ternyata memang tidak bisa beristrikan manusia. Bagi Kappa, isteri dari bangsa Kappalah yang paling baik.”

Byur! Byur! Byur! Kappa menyelam ke dalam rawa.
Ayah merasa sangat gembira karena putri bungsunya pulang dengan selamat.
Putri bungsunya itu mewarisi rumah dan sang Ayah hidup dengan tenang sampai akhir hayatnya.

Rate this topic:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...
Popularity: 9 views
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Comments on “Bagaimanakah bulan Juni di Jepang?”

  • yohan
    29 June, 2008, 11:15

    soukaaaa…. :)

  • Agung
    29 June, 2008, 16:08

    aku sih ga tau pasti mas yohan, soalnya aku dapet cerita ini juga dari orang jepang asli.

  • J-fans
    12 September, 2008, 22:00

    kerenzzzz, semangt baca terus…..hehe ^_^

Leave a Comment